Yang mungkin terlupakan ataupun diabaikan
Tragisnya Kondisi
Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) Di tengah Kota Samarinda
Sebelum saya menulis artikel ini terlebih dahulu aku membaca tulisan mengenai hewan ini, ada berbagai hal yang kudapatkan berbagai informasi tentang pemanfaatan, pembunuhan, dan informasi bahwa satwa ini bukanlah salah satu satwa yang di lindungi secara hukum Pro Fauna Indonesia dalam tulisan Asep R. Purnama .
Nah satu baris tulisan di atas sebagai bahan acuan saya untuk ngungkapin apa yang saya liat 24 april 2008 lalu.
Samarinda, ibukota dari kalimantan timur, adalah kota yang dengan jumlah penduduk 537.933 jiwa. Adalah kota yang indah menurut saya karena dibelah oleh sungai mahakam, selain itu samarinda juga menjadi kota metropolutan dengan kendraan yang padat dan mobilitas yang cukup besar. Ada banyak hal yang menarik dari kota ini yang mungkin agak terlupakan atau dilupakan bagi masyarakat kaum konservasi apalagi kaum awam ( non konservasionis), namanya satwa liar yang ada disekitar lingkungan kota diantaranya jenis-jenis dari aves dan juga dari primata.Yang terlupakan atau agak terlupakan dari beberapa jenis satwa itu dia ntaranya adalah bekantan yang bermukim di kawasan hutan kota dekat dengan jembatan mahakam, samarinda seberang dan Lutung ekor panjang yang bermukim di kawasan Perjuangan, Sempaja, Samarinda Ulu, yang dekat dengan komunitas kaum terpelajar yaitu kost-kostsan mahasiswa yang juga dekat dengan Unmul (universitas Mulawarman).
Ada yang menjadi masalah dengan keberadaan Lutung ekor panjang ini yaitu konflik antara satwa yang bertindak secara naluri/insting dengan manusia yang bertidak dengan akal dan pikiran. Lutung ekor panjang yang terdapat di jaln perjuangan ini sekitar 20 ekor ini terbukti menimbulkan konflik dengan masyarakat sekitar.” Satwa ini sering masuk ke dapur kost-kostsan mahasiswa untuk mencuri makanan” ini diutarakan oleh salah satu penghuni kost sewaktu Kami ( Anggota Mapflofa ) wawancarai. Ini juga terjadi di kost-kost sekitar habitat.
24 april 2008 di temukan 3 ekor Lutung ekor panjang tewas di belakang salah satu kost-kostsan. Satwa tersebut diduga mati akibat keracunan, ini terlihat drai mulutnya yang mengeluarkan busa.
Memang melihat dari habitatnya konflik stwa dan manusia untuk kasus ini tidak dapat di hindari, karena di lihat dari habitatnya yang tidak memiliki banyak sumber makanan, dan habitatnya yng sempit dan terjepit.
Nah yang perlu kita pikirkan adalh bagaimana caranya untuk menyelamatkan satwa tersebut agar konflik tidak terjadi lagi yang mengakibatkan kerugian finansial bagi manusia yang berakal budi dan serta penyelamatan satwa yang belum di lindungi secara hukum.
Di tulis oleh seorang mahasiswa kehutanan, universitas mulawarman, yang juga sebagai anggota Mapflofa (Mahasiswa Penyanyang Flora Fauna)
Mabes Mapflofa 10 Mei 2008-05-08 Pukul 03.50 Wita
21.007
-
Terkini
-
Tautan
-
Arsip
- Juni 2009 (1)
- Juni 2008 (1)
- Mei 2008 (1)
- April 2008 (1)
- Agustus 2007 (1)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS
